Bulan Maret 2009 saya dan seorang teman berlibur singkat ke Belitung yang berada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang baru disahkan pada tahun 2001. Perjalanan kami terinspirasi oleh indahnya pemandangan yang kami lihat di film layar lebar Laskar Pelangi dan kami sangat takjub karena keindahan Belitung ternyata jauh melampaui ekspektasi kami. Yang paling sulit untuk berbackpacking di Belitung adalah jarangnya kendaraan umum (sejauh yang saya lihat hanya ada di Manggar dan Tanjung Pandan, serta bis dengan rute sekitar Belitung Timur yang beroperasi pada jam tertentu saja) dan minimnya penerangan di malam hari yang membuat saya agak ragu untuk menyewa motor. Maka kali ini saya memanjakan diri berflashpacking ria, menyewa mobil beserta supir dan memakai rok (suatu hal yang hampir tak pernah saya lakukan bila sedang berbackpacking). Keputusan menyewa mobil yang membuat kami harus membayar Rp. 250.000 untuk sewa mobil dan 150.000 untuk BBM ini saya syukuri kemudian karena hari pertama di Belitung turun hujan yang cukup deras dan jalanannya akan membuat saya panik kalau bermotor-motor ria malam hari.
Dalam waktu 2 setengah hari dan dua malam, kami memadatkan waktu dengan mengambil rute bermobil di hari pertama dan rute perahu mengunjungi pulau-pulau kecil di hari kedua. Hari pertama, langsung dari bandara H. A. S. Hanandjoeddin kami menuju Belitung Timur untuk mengunjungi Pantai Burung Mandi, Bukit Batu, kecamatan Manggar (tempat Ikal membeli kapur), kecamatan Gantong dan SD Muhammaddiyahnya. Pantai Burong Mandi terlihat biasa saja, tapi airnya memang sangat jernih. Disini batu-batu raksasa belum terlihat. Kami pun memutuskan untuk tidak mampir ke Vihara Dewi Kwam Im yang disebut-sebut di beberapa itenary agen perjalanan karena dari luar vihara tersebut terlihat tidak terlalu istimewa.
Di Bukit Batu mulai terlihat susunan batu2 besar dan pemandangannya membuat kami agak berlama-lama duduk untuk menikmati setiap titik yang terlihat di pandangan kami sebelum selanjutnya kami mengunjungi Manggar untuk makan siang.
Setelah berputar-putar mengelilingi Manggar, kami menyantap sejenis mie yang cukup enak dengan nama kalau tidak salah Lucipan dan Ponpi (saya lupa) di sebuah warung. Manggar sendiri cukup ramai dibanding kecamatan-kecamatan lain di Belitung. Tidak seperti jalan sepi yang kami lewati dari Bandara ke Belitung Timur, disini sudah terlihat toko-toko, rumah makan, bengkel, karaoke dangdut, stasiun radio dan banyak warung kopi. Rupanya penduduk Belitung senang menghabiskan waktu selama berjam-jam di warung kopi, walaupun yang diminum hanya segelas. Haha, agak mirip dengan yang saya sering lakukan.
Sayang sekali karena hujan besar, kami tidak bisa turun di SD Muhamaddiyah tempat bu Muslimah mengajar. Akhirnya kami memilih untuk menjajal kopi O (kopi hitam), kopi susu dan teh susu di sebuah warung kopi di Gantong. Gelasnya relatif kecil, tapi rasanya benar-benar istimewa. Teman saya menyukai rasa teh susunya yang memang benar-benar enak sampai-sampai saya bertanya resepnya ke pemilik warung untuk saya coba dirumah nanti.
Kami meneruskan perjalanan ke arah Barat, mampir sebentar ke pantai Tanjung Pendam yang sedang surut sampai tengah laut, lalu mengunjungi Bukit Berahu dimana ada sebuah restoran di atas bukit dengan sea view yang cantik.
Kami meneruskan perjalanan ke arah Barat, mampir sebentar ke pantai Tanjung Pendam yang sedang surut sampai tengah laut, lalu mengunjungi Bukit Berahu dimana ada sebuah restoran di atas bukit dengan sea view yang cantik.Barulah kemudian kami mengunjungi pantai Tanjung Tinggi, tempat pengambilan gambar Laskar Pelangi (ada plangnya loh!). Disini kami terkagum-kagum melihat batu-batu raksasa disana-sini dan pemandangan yang indah luarbiasa. Pemandangan terbaik yang kami lihat hari itu.
Dari Tanjung Tinggi, kami mundur ke Tanjung Kelayang, tempat cottage untuk kami bermalam berada. Sesuai dengan tempatnya, cottage yang berada tepat di bibir pantai ini bernama Tanjung Kelayang Cottages. Kami menyewa cottage yang cukup luas untuk berdua berfasilitas full furnished room yang bersih dengan twin bed dan kamar mandi di dalam serta beranda kecil di depan seharga Rp. 100.000,- per malam (katanya harga spesial).Pelayanan penginapan ini menurut saya cukup memuaskan, tapi variasi makanan sangat terbatas dan rasanya (kecuali tumis genjer yang hmmm..) pun tidak terlalu istimewa. Harganya malah saya nilai tergolong mahal. Kami berdua rata-rata menghabiskan uang sekitar 30.000 s/d 75.000 untuk sekali makan. Makanan khas yang patut dicoba ketika mengunjungi Belitung adalah Tumis Genjer dan Gangan Kepala Ikan. Tumis genjernya dibumbui agak pedas dengan warna cabe merah disana-sini, sedangkan Gangan kepala ikan adalah kepala ikan (sepertinya kakap) berkuah kuning dimasak dengan potongan-potongan nanas yang dengan rasa asam dan segarnya membuat masakan ini sangat ‘tropikal’.
Tanjung kelayang sendiri mempunyai pantai yang sangat indah dengan pasir putih yang luarbiasa lembut dan akses terdekat menuju pulau-pulau kecil yang menakjubkan.
Tanjung kelayang sendiri mempunyai pantai yang sangat indah dengan pasir putih yang luarbiasa lembut dan akses terdekat menuju pulau-pulau kecil yang menakjubkan.

Perjalanan menuju pulau-pulau kecil di sekitar Tanjung Kelayang kami tempuh menggunakan perahu nelayan dengan harga sewa per hari Rp. 400.000,- (sudah termasuk alat snorkeling). Kami mengunjungi Pulau Lengkuas yang cantik dengan mercu suarnya yang berumur lebih dari satu abad (dibuat Belanda pada tahun 1882), Pulau Babi, dan Pulau Kelayang. Kami berpuas-puas berenang dan tidur-tiduran di atas batu-batu besar sampai akhirnya saya tertidur betulan dan dibangunkan si Bapak pemilik perahu ketika hari sudah sore. Pulau-pulau kecil ini sangat luar biasa cantik dan bersih, membuat acara berenang dan bersantai di pantai menjadi pengalaman yang berkali-kali lebih menyenangkan daripada yang pernah saya lakukan sebelumnya. 
Kecamatan teramai di Belitung kami lewati pada hari terakhir sebelum ke bandara. Tanjung Pandan namanya. Kami pun mampir untuk membeli oleh-oleh khas Belitung yang sebenarnya tidak terlalu aneh; kerupuk ikan / udang / cumi-cumi, terasi udang, abon ikan, agar-agar rumput laut dll. Tapi toh di setiap kemasannya ada tulisan ‘khas Belitung’ yang sulit kita cari di toko pusat oleh-oleh lain di luar Belitung, jadi kami beli saja. Haha!