Selasa, 05 Mei 2009

tentang hujan

Hujan, kamu begitu cantik
Aku begitu cinta gerimismu
Memandang setiap butirannya yang berkilau dari bawah lampu jalan, menengadah dan selalu terperangah

Hujan, kamu begitu baik
Derasmu mengguyur sedihku, mengusir piluku, memandikanku dari duka

Hujan, kamu begitu perkasa
Hebatmu menyapu semua, mengundang pekak tangis, mengajak bencana

Hujan, tetaplah cantik, tetaplah baik
dan ketika kau harus menunjukkan perkasamu, tak apa
Itu perintah Tuhan padamu

Aku tahu, kamu pun menangis
Aku tahu, perkasa itu tangis derasmu

Hujan, aku begitu cinta
Akan semuamu
Bahkan dia yang kutahu membencimu pun menantikan datangmu, mendambakan pelangi



(tanpa judul, ditulis secara terburu-buru di suatu sesi SIAware)

Rabu, 08 April 2009

Belitung


Bulan Maret 2009 saya dan seorang teman berlibur singkat ke Belitung yang berada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang baru disahkan pada tahun 2001. Perjalanan kami terinspirasi oleh indahnya pemandangan yang kami lihat di film layar lebar Laskar Pelangi dan kami sangat takjub karena keindahan Belitung ternyata jauh melampaui ekspektasi kami.

Yang paling sulit untuk berbackpacking di Belitung adalah jarangnya kendaraan umum (sejauh yang saya lihat hanya ada di Manggar dan Tanjung Pandan, serta bis dengan rute sekitar Belitung Timur yang beroperasi pada jam tertentu saja) dan minimnya penerangan di malam hari yang membuat saya agak ragu untuk menyewa motor. Maka kali ini saya memanjakan diri berflashpacking ria, menyewa mobil beserta supir dan memakai rok (suatu hal yang hampir tak pernah saya lakukan bila sedang berbackpacking). Keputusan menyewa mobil yang membuat kami harus membayar Rp. 250.000 untuk sewa mobil dan 150.000 untuk BBM ini saya syukuri kemudian karena hari pertama di Belitung turun hujan yang cukup deras dan jalanannya akan membuat saya panik kalau bermotor-motor ria malam hari.


Dalam waktu 2 setengah hari dan dua malam, kami memadatkan waktu dengan mengambil rute bermobil di hari pertama dan rute perahu mengunjungi pulau-pulau kecil di hari kedua. Hari pertama, langsung dari bandara H. A. S. Hanandjoeddin kami menuju Belitung Timur untuk mengunjungi Pantai Burung Mandi, Bukit Batu, kecamatan Manggar (tempat Ikal membeli kapur), kecamatan Gantong dan SD Muhammaddiyahnya. Pantai Burong Mandi terlihat biasa saja, tapi airnya memang sangat jernih. Disini batu-batu raksasa belum terlihat. Kami pun memutuskan untuk tidak mampir ke Vihara Dewi Kwam Im yang disebut-sebut di beberapa itenary agen perjalanan karena dari luar vihara tersebut terlihat tidak terlalu istimewa.

Di Bukit Batu mulai terlihat susunan batu2 besar dan pemandangannya membuat kami agak berlama-lama duduk untuk menikmati setiap titik yang terlihat di pandangan kami sebelum selanjutnya kami mengunjungi Manggar untuk makan siang.

Setelah berputar-putar mengelilingi Manggar, kami menyantap sejenis mie yang cukup enak dengan nama kalau tidak salah Lucipan dan Ponpi (saya lupa) di sebuah warung. Manggar sendiri cukup ramai dibanding kecamatan-kecamatan lain di Belitung. Tidak seperti jalan sepi yang kami lewati dari Bandara ke Belitung Timur, disini sudah terlihat toko-toko, rumah makan, bengkel, karaoke dangdut, stasiun radio dan banyak warung kopi. Rupanya penduduk Belitung senang menghabiskan waktu selama berjam-jam di warung kopi, walaupun yang diminum hanya segelas. Haha, agak mirip dengan yang saya sering lakukan.

Sayang sekali karena hujan besar, kami tidak bisa turun di SD Muhamaddiyah tempat bu Muslimah mengajar. Akhirnya kami memilih untuk menjajal kopi O (kopi hitam), kopi susu dan teh susu di sebuah warung kopi di Gantong. Gelasnya relatif kecil, tapi rasanya benar-benar istimewa. Teman saya menyukai rasa teh susunya yang memang benar-benar enak sampai-sampai saya bertanya resepnya ke pemilik warung untuk saya coba dirumah nanti.

Kami meneruskan perjalanan ke arah Barat, mampir sebentar ke pantai Tanjung Pendam yang sedang surut sampai tengah laut, lalu mengunjungi Bukit Berahu dimana ada sebuah restoran di atas bukit dengan sea view yang cantik.

Barulah kemudian kami mengunjungi pantai Tanjung Tinggi, tempat pengambilan gambar Laskar Pelangi (ada plangnya loh!). Disini kami terkagum-kagum melihat batu-batu raksasa disana-sini dan pemandangan yang indah luarbiasa. Pemandangan terbaik yang kami lihat hari itu.
Dari Tanjung Tinggi, kami mundur ke Tanjung Kelayang, tempat cottage untuk kami bermalam berada. Sesuai dengan tempatnya, cottage yang berada tepat di bibir pantai ini bernama Tanjung Kelayang Cottages. Kami menyewa cottage yang cukup luas untuk berdua berfasilitas full furnished room yang bersih dengan twin bed dan kamar mandi di dalam serta beranda kecil di depan seharga Rp. 100.000,- per malam (katanya harga spesial).

Pelayanan penginapan ini menurut saya cukup memuaskan, tapi variasi makanan sangat terbatas dan rasanya (kecuali tumis genjer yang hmmm..) pun tidak terlalu istimewa. Harganya malah saya nilai tergolong mahal. Kami berdua rata-rata menghabiskan uang sekitar 30.000 s/d 75.000 untuk sekali makan. Makanan khas yang patut dicoba ketika mengunjungi Belitung adalah Tumis Genjer dan Gangan Kepala Ikan. Tumis genjernya dibumbui agak pedas dengan warna cabe merah disana-sini, sedangkan Gangan kepala ikan adalah kepala ikan (sepertinya kakap) berkuah kuning dimasak dengan potongan-potongan nanas yang dengan rasa asam dan segarnya membuat masakan ini sangat ‘tropikal’.

Tanjung kelayang sendiri mempunyai pantai yang sangat indah dengan pasir putih yang luarbiasa lembut dan akses terdekat menuju pulau-pulau kecil yang menakjubkan.
Perjalanan menuju pulau-pulau kecil di sekitar Tanjung Kelayang kami tempuh menggunakan perahu nelayan dengan harga sewa per hari Rp. 400.000,- (sudah termasuk alat snorkeling). Kami mengunjungi Pulau Lengkuas yang cantik dengan mercu suarnya yang berumur lebih dari satu abad (dibuat Belanda pada tahun 1882), Pulau Babi, dan Pulau Kelayang. Kami berpuas-puas berenang dan tidur-tiduran di atas batu-batu besar sampai akhirnya saya tertidur betulan dan dibangunkan si Bapak pemilik perahu ketika hari sudah sore. Pulau-pulau kecil ini sangat luar biasa cantik dan bersih, membuat acara berenang dan bersantai di pantai menjadi pengalaman yang berkali-kali lebih menyenangkan daripada yang pernah saya lakukan sebelumnya.
Kecamatan teramai di Belitung kami lewati pada hari terakhir sebelum ke bandara. Tanjung Pandan namanya. Kami pun mampir untuk membeli oleh-oleh khas Belitung yang sebenarnya tidak terlalu aneh; kerupuk ikan / udang / cumi-cumi, terasi udang, abon ikan, agar-agar rumput laut dll. Tapi toh di setiap kemasannya ada tulisan ‘khas Belitung’ yang sulit kita cari di toko pusat oleh-oleh lain di luar Belitung, jadi kami beli saja. Haha!

Selasa, 03 Maret 2009

Secret Show #3 MOCCA

suatu kebodohan tingkat tinggi.. tulisan ini ternyata masih nyangsang di draft dan belum ke post.. akhh.. betapa basiiiii.......



Bertempat di Saung Angklung Udjo, Padasuka, Cicaheum - Bandung pada minggu malam tanggal 1 Maret 2009, MOCCA menggelar secret show part 3 yang dihadiri para fans setianya dan para Swinging Friends 1 dan 2. Dengan tiket seharga Rp.20.000 untuk umum, Rp. 10.00 untuk Swinging Frinds 1, dan free untuk Swinging Friends 2 yang sudah termasuk segelas kopi panas dan merchandise keren, penonton yang hadir disuguhi belasan lagu termasuk beberapa lagu barunya seperti Listen to Me.

Setahun lebih setelah Secret Show #2 digelar, Secret Show #3 memang benar-benar dinanti-nanti. Secret Show yang identik dengan terbatasnya tiket yang disebar membuat show ini benar-benar terasa akrab dan terasa bahwa show ini memang didedikasikan secara khusus oleh MOCCA untuk para Swinging Friends.

Arina yang pada malam itu sedang flu tampak cantik dibalut one piece simple dress warna soft pink buatan Kiki Channya Olive Tree (kabarnya Kiki Chan membuat gaun itu dalam waktu hanya semalam!). Sementara Indra memakai kaos yang pada malam itu dibagikan secara gratis untuk para Swinging Friends 2. Toma tidak lupa dengan topinya yang khas memakai cardigan yang mirip dengan Riko yang entah mungkin perasaan saya saja atau memang benar.. terlihat ganteng nian malam itu (hohoho)!!

Yang menjadi kejutan utama adalah Sogi Indra Dhuaja, salah satu komedian yang mirip teman kerja saya di Bandung dulu, mengambil peran 'Bob' pada lagu Swing it Bob dengan menjadi partner bernyanyi dan berdansanya Arina! Luarbiasa!!

Ditutup dengan lagu It's Over Now yang menjadi lagu kebangsaan saya dengan mantan pacar yang pada malam itu memang sengaja nonton sama-sama, penampilan MOCCA diriuhi oleh tepuk tangan penonton yang terus-terusan berteriak "lagi.. lagi.."..

Great Job MOCCA.. love u always..

Senin, 02 Maret 2009

Pulau Sempu

Pulau yang terletak di Selatan Kabupaten Malang, tepat di seberang pantai Sendang Biru ini adalah salah satu tempat terindah yang pernah saya kunjungi. Pulau ini menahan ombak laut selatan dan membuat pantai Sendang Biru sangat tenang dan cocok untuk tempat bersandar perahu-perahu pencari ikan. Tempat Pelelangan Ikan yang berada di Sendang Biru sendiri cukup terkenal di daerah Malang Selatan.


Perjalanan dari kota Malang ke Sendang Biru memakan waktu sekitar 2 jam bila menggunakan kendaraan pribadi. Bila menggunakan angkutan umum dengan rute Arjosari-Gadang (Angkot dg kode AG, tarif Rp2.500), Gadang-Turen (elf pengangkut sayur, tarif Rp5.000), Turen-Sendang Biru (angkot kecil warna biru, tarif Rp12.000) akan makan waktu 3-4 jam atau lebih.














Pemandangan sepanjang perjalanan dari Turen ke Sendang Biru cukup indah melewati bukit-bukit, agak menghibur hati bila anda menggunakan angkot biru yang biasanya berisi penuh sesak penumpang sampai kaki menekuk sedemikian rupa dan bahu mengkerut berusaha bertransformasi agar ukuran tubuh lebih kecil dari biasanya supaya muat di dalam angkot ajaib yang mampu menampung sampai 20 orang dewasa itu.

Pantai Sendang Biru sendiri kurang cocok untuk tempat main air atau berenang karena hampir penuh dengn kapal nelayan. Pada kunjungan saya di awal Januari 2009 sebagian pantainya malah sedang dikeruk untuk membuat tempat sandaran kapal, karena nantinya kapal-kapal pencari ikan wilayah laut selatan, akan dipusatkan di pantai ini untuk tempat sandarannya.

Untuk mencapai Pulau Sempu dari Sendang Biru, kita bisa menyebrang menggunakan jasa antar jemput perahu nelayan (tarif Rp100.000 PP per kapal). Jika tidak pergi dengan rombongan, supaya murah kita bisa bergabung dengan rombongan lain atau meminjam perahu dayung kecil (tarif Rp.40.000 per perahu) dan olahraga mendayung sampai pulau Sempu. Pilihan lain adalah meminta diantar jemput oleh perahu dayung (tarif Rp50.000 PP per perahu).



Rute trekking di pulau Sempu cukup mudah, tinggal mengikuti jalur yang sudah ada saja. Untuk mencapai Segoro Anakan, danau air payau yang menjadi daya tarik utama pulau Sempu, tracknya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam, tetapi di musim hujan track biasanya berubah menjadi jalan lumpur yang sulit dilewati. Becek dan super licin. Dalam kondisi ini lama perjalanan bisa mulur sampai 2 jam dan sangat tidak disarankan memakai sandal jepit untuk alas kaki.



















Segoro Anakan adalah danau air payau di pulau Sempu yang dikelilingi oleh tebing-tebing hijau yang penuh pepohonan. Air laut yang masuk dari celah tebinglah yang membuat airnya menjadi payau karena tercampur oleh air laut. Di mata saya, danau ini bagaikan kolam renang raksasa dengan pemandangan yang menakjubkan. Komposisi warna putih pasir pantai, warna kebiruan danau, hijau tebing, biru langit dengan riak awan di hari yang cerah benar-benar menjadi pemandangan yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di tempat lain. Terlebih lagi, airnya yang luar biasa jernih dan kedalamannya yang sampai tengah danau biasanya rata-rata hanya sebatas leher orang dewasa itu sangat menggoda untuk membuat kita berlama-lama berenang.



Apabila hendak bermalam di pulau Sempu, pastikan anda membawa alat berkemah yang lengkap dengan tenda yang memadai, air minum yang banyak dan juga jangan lupa lotion anti nyamuk, karena nyamuknya banyak sekali. Bagi anda yang malas berepot-repot membawa peralatan kemah, bermalam di penginapan di pantai Sendang Biru bisa menjadi pilihan. Wisma Keluarga adalah salah satu penginapan yang nyaman dengan fasilitas yang cukup memadai (tarif Rp 75.000 per malam). Letaknya pun tepat berada di bibir pantai.


Karena pulau Sempu ini masih termasuk cagar alam, sebenarnya kita harus melapor ke petugas yang ada di Sendang Biru bila mau menyebrang ke pulau Sempu. Tapi biasanya haya dilakukan pengarahan yang bersifat formalitas dan dikenai biaya Rp. 10.000 / org (bila sendiri/berdua) atau Rp. 50.000 / rombongan (tergantung negosiasi dengan petugasnya) untuk "biaya administrasi". Bisa saja kita melewatkan proses ini, bila ditanya oleh tukang perahu apakah sudah melapor, bilang saja sudah. Hohoho..




Oia, kalau kesini JANGAN MENINGGALKAN SAMPAH ya.. dan jangan melakukan hal-hal yang akan merusak alam dan ekosistem..

Senin, 08 Desember 2008

sekedar aba-aba

Saya membuat blog ini sehubungan dengan terbengkalai dan terlupakannya my previous blog beberapa tahun yang lalu yang sekarang saya trace pun tidak bisa (kemungkinan besar karena e-mail accountnya sendiri sudah expired karena tidak pernah dibuka).

Semoga kali ini, saya diberi berkah konsistensi untuk terus menulis. Walaupun mungkin isinya tidak begitu penting atau malah sama sekali tidak penting, saya tetap akan bagi.. barangkali ada yang mau diajak berbagi.. hehehe..

isinya sendiri tidak akan saya spesifikan ke suatu hal, topik, maupun kecenderungan.. saya akan menulis apapun yang pada saat itu saya ingin bagi.. ^^

baiklah kalau begitu, karena ini sekedar aba-aba.. sepertinya tidak harus panjang-panjang..

mari kita mulai!! =)